Minggu, 29 Agustus 2010

Tuhan Tak Perlu Dibela (Persembahan Untuk KH Abdurrahman Wahid)

Tuhan Tak Perlu Dibela (Persembahan Untuk KH Abdurrahman Wahid)

by Airlangga Pribadi on Thursday, December 31, 2009 at 12:47pm
Surabaya Post
31 Desember 2009

Tuhan Tak Perlu Dibela
(Persembahan Untuk KH Abdurrahman Wahid)

Oleh
Airlangga Pribadi
Pengajar Ilmu Politik FISIP Universitas Airlangga
Koordinator Serikat Dosen Progresif

Tuhan tak perlu dibela, (manusia lah yang harus dibela)! Pertama-tama saya mendengar kata-kata tersebut terlontar dari KH Abdurrahman Wahid pada waktu saya kuliah strata sarjana Ilmu Politik, maka spontan vonis ‘Sekuler!” saya alamatkan kepadanya dengan sebuah pemaknaan yang pejoratif. Pandangan naïf seorang mahasiswa yang baru saja menimba ilmu ini perlahan-lahan berubah dalam memaknai kata-kata yang keluar dari Gus Dur tersebut, setelah merenung dalam-dalam, adakah makna Tauhid yang lebih radikal yang melampaui lontaran kalimat diatas?

Pengakuan Tuhan tak perlu dibela adalah bentuk pengakuan paling dalam dari seorang hamba akan keberkuasaan dan keberserahdiriannya kepada Sang Pencipta, sementara kalimat peneguhan tersebut memiliki konsekwensi dalam yaitu tanggung jawab dari tiap-tiap manusia untuk membela nilai-nilai kemanusiaan sebagai wujud keberserah dirian kepada Sang Pencipta dengan kata, fikiran dan perjuangan. Kita semua menjadi saksi bagaimana dalam sapuan besar jejak-langkahnya KH Abdurrahman Wahid mengabdikan dirinya utuh untuk menghormati dan memperjuangkan nilai-nilai humanitas. Komitmen pada demokrasi inklusif, pembelaan terhadap kaum minoritas, pluralisme dan multikulturalisme, menjadi komitmen beliau dalam peran-perannya sebagai Kyai, pemikir, aktivis NGO, budayawan maupun Presiden dan politisi.

Mengulas cakrawala pemikiran Gus Dur beserta mozaik-mozaik detailnya bukanlah pekerjaan yang mudah, dan tidak dapat diselesaikan dalam artikel pendek ini. Saya hanya akan mengulas Pertama, ide-ide utama sebatas pengetahuan saya terhadap cakrawala pemikiran beliau dan makna pentingnya bagi penguatan karakter kebangsaan kita. Kedua, konsistensi beliau sebagai Presiden Rakyat Indonesia dalam masa kepemimpinannya membela Republik, Kebhinekaan dan Demokrasi.

Dalam khasanah kaum pembaru Islam di Indonesia nama Abdurrahman Wahid sekelas dan dapat disejajarkan dengan mendiang Nurcholish Madjid dan Kuntowijoyo. Sebagai pemikir pembaru Islam di jalur kulturalis, tiga pemikiran utamanya yang patut untuk diapresiasi dalam-dalam adalah pemahamannya akan Pertama, Islam bukan sebagai ideologi politik namun sebagai cakrawala komplementer untuk membentuk mozaik Keindonesiaan. Kedua, perkembangan Islam dalam wilayah kultural, berangkat dari dialog interaktif dengan tradisi-tradisi lokal yang tumbuh dalam taman puspa sari Keindonesiaan. Ketiga, peran ummat Islam adalah bersama-sama komponen kebangsaan lainnya adalah membela dan memperjuangkan masyarakat terbuka dan demokratis dalam makna substantif terdalamnya.

Untuk seorang intelektual yang secara multidimensi terbentuk dalam tradisi pemikiran liberasi Islam dunia, khasanah pemikiran Barat modern dengan gagasan demokrasi. Visi Gus Dur sebagai intelektual Muslim organik tersebut terasa tidak kehilangan karakter keislaman tradisionalnya dan semangat nasionalismenya. Ekspose Gus Dur terhadap khasana pemikiran Eropa dan kosmopolitannya tidak membuat dirinya tercabut dari akar tradisi dan komitmen kebangsaannya. Dalam konteks perjuangan untuk membangun masyarakat terbuka, demokratis dan bermartabat di Indonesia, Gus Dur memberikan pelajaran penting kepada kita, bahwa sebagai bagian dari anak bangsa yang memiliki wawasan yang sangat kaya, pertemuan-pertemuan terhadap tradisi pemikiran maupun kekuatan-kekuatan Barat tidak harus membuat kita kehilangan kepercayaan diri dan menjadi Mr Yes-Man. Dalam encounter (pertemuan) dengan yang lain, integritas diri dan kemampuan untuk menyerap segala hal dari luar harus diabdikan dalam kerja-kerja budaya untuk berinteraksi, mengadopsi dan berinovasi. Dalam karya seorang antropolog Prancis Dennys Lombard yang mengulas secara mendalam tentang Jawa-Nusantara, kemampuan inilah yang disebut sebagai warisan Genius Lokal Nusantara.

Sebagai seorang Guru Bangsa dan Guru kaum Muslim Indonesia, tiga tesis keberislaman dalam bingkai keindonesiaan dari Abdurrahman Wahid tersebut, adalah jawaban dari inferioritas kompleks ummat Islam Indonesia sejak masa kolonial sampai pertengahan era Orde Baru yang dalam bahasa WF Wertheim mengalami sindroma Majority with Minority Mentality. Gus Dur membuka wawasan dan kesadaran ummat Islam Indonesia bahwa eksistensinya dengan komunitas lain dalam konteks kebangsaan menuntut mereka untuk bersikap rendah hati dan tidak ingin menang sendiri untuk merealisasikan kebaikan bersama dalam konteks kewargaan, dan berkomitmen kepada mereka yang disingkirkan, warga minoritas dan membangun komunikasi demokratik agar seluruh suara dapat didengar maupun dibela dalam bingkai tatanan politik Republik. Teks Gus Dur ini menggemakan kembali gagasan Hannah Arendt yang menempatkan komitmen bersama tiap warga negara dalam ruang Polis untuk menciptakan tindakan liberatif bagi kebaikan bersama melawan korupsi politik, kepentingan-kepentingan sempit kelompok dan privat.

Sebagai Presiden
Tidak saja sebagai pemikir, kyai dan aktivis hal yang kerap kita lupa bahwa KH Abdurrahman Wahid sebagai seorang Presiden maupun politisi adalah manusia politik yang langka bagi Indonesia saat ini ditengah transaksi dan perdagangan sebagai modus utama aktivitas politisi Indonesia selama ini. Seorang politisi yang keras kepala dengan ide-idenya dan berani untuk bertanggung jawab dan memperjuangkannya. Melakukan rekonsiliasi nasional dan keadilan transisional bagi mereka yang tertindas, menggiring agar TNI kembali ke barak dan menegaskan supremasi sipil, menghalau setiap kehendak fanatisisme dan ekstremisme dalam ranah kebangsaan, meminta maaf terhadap kesalahan kaumnya berpuluh tahun yang lampau, dan bernegosiasi dengan cerdas sebagai bangsa yang terhormat dalam pergaulan bangsa internasional dengan kekuatan AS, Eropa, China, India dan negara lainnya. Meskipun dengan semua itu beliau harus mempertaruhkan kekuasaan politiknya. Sesuatu yang dengan rasa tanggung jawab dan komitmen seorang negarawan republik dengan kehormatan ia bela dan hadapi. Selamat jalan Gus Dur, Selamat jalan Guru Bangsa dan Selamat Jalan Kekasih rakyat Indonesia! Engkau menghadap Sang Pencipta dengan amal perbuatan dalam pembelaan pada kemanusian.

1 komentar:

  1. Mana penjelasan mengenai "Tuhan tak perlu dibela"nya, mas Pri?
    Izin perkenalkan blog pribadi saya:
    https;//doa-logika.blogspot.com

    BalasHapus